Kamis, 31 Mei 2012

Missing: KONYIL, Si Kura-kura Pemarah dan Jutek


Nama: Konyil
Jenis: Kura-kura Brazil
Jenis kelamin: Laki-laki
Diameter tempurung: 15 cm
Ciri khusus: Kuku depan panjang (sekitar 1 cm); agresif, pemarah dan jutek; mendesis tiap kali diangkat

***

Nyaris 36 jam sejak Konyil pergi dari rumah. Rasanya masih ga percaya, kura-kura pemarahku hilang kemarin pagi.

Kemarin, seperti biasa, Bapak mengganti air di ember tempat Konyil dan Inyot tinggal. Bapak selalu melepas mereka jalan-jalan di sekitar rumah setiap pagi hingga siang hari. Biasanya, mereka hanya akan jalan-jalan di depan rumah, di gang kecil samping rumah, di beberapa rumah tetangga dan masuk ke rumah untuk kemudian mojok berdua di samping mesin jahit Ibu. Tapi kemarin, setelah dikeluarkan dari ember, Konyil tidak langsung masuk ke rumah bersama Inyot. Dia berjemur di samping ember sebelum aku dan Bapak sadar dia hilang entah ke mana.

Bapak, Ibu, aku dan tiga orang tetangga langsung mencari Konyil. Mulai dari sela-sela pot Ibu di depan rumah, rumah-rumah tetangga, gang kecil samping rumah, gang rumah sampai ke jalan besar depan gang, gang samping kiri rumah hingga gang belakang rumah, dan gang selatan masjid yang jaraknya lumayan jauh untuk ukuran kura-kura sebesar Konyil. Dan kami melakukan pencarian tersebut berulang kali.

Bapak dan Ibu percaya, jika Konyil cuma main di sekitaran rumah, jam 10-an pasti dia akan balik ke rumah karena lapar. Jam 10-12an memang jadwalnya makan siang. Biasanya, dia akan mendekati ember tempatnya tinggal untuk minta makan.
Maka ketika lebih dari jam 10 Konyil ga juga kelihatan pulang, Ibu udah yakin, pasti dia dibawa orang.

Penjelasan paling masuk akal dari hilangnya Konyil adalah ketika dia jalan-jalan ke gang belakang rumah, ada orang lewat yang ngeliat dan ngambil dia. Orang itu pasti bukan warga sekitar rumah. Karna jika dia adalah warga sekitar rumah, pasti dia tahu kalau kura-kura yang dia lihat itu adalah kura-kura milik keluarga kami. Yep, sudah sekitar 5 tahun kami sekeluarga pelihara Konyil. Jadi sudah banyak warga sekitar rumah yang kenal Konyil.

Huks, rasanya sediiih banget =(( Sebel dan nyesel juga, kenapa aku ga awasin dia jalan-jalan kemarin pagi. Jengkel sama Bapak yang ngebiarin Konyil gitu aja tanpa diawasi.
Well, Bapak memang selalu aja ngeyel kalau aku, Ibu atau Dani protes tiap kali Bapak ngelepas Inyot dan Konyil tanpa pengawasan.
Bapak selalu yakin Konyil bakal pulang sendiri tiap kali jalan-jalan.
Selama ini memang seperti itulah yang terjadi. Sejak kami pelihara Konyil, sedari tempurungnya berdiameter sekitar 2,5 cm, sudah berkali-kali dia melarikan diri dari rumah. Tapi dia selalu balik ke rumah tiap kali lapar. Pelarian paling lamanya adalah ketika tempurungnya berdiameter sekitar 5 cm. Dia berhasil keluar dari embernya yang tidak diisi air. Selama setengah hari aku dan Ibu bingung mencarinya. Akhirnya kami menemukannya di talang air tetangga dapan rumah setelah dia bergerak-gerak berisik karna lapar.
Sejak saat itu, kami selalu melepaskan Inyot dan Konyil untuk jalan-jalan di pagi sampai siang hari agar mereka tidak bosan terus-terusan di dalam ember. Dan sejak itulah, Konyil dan Inyot selalu pulang tiap kali selesai jalan-jalan.

Sebenernya, mau marah sama Bapak juga ga enak. Konyil emang paling deket ma Bapak. Sejak tempurungnya berdiameter kurang lebih 10 cm, Bapak lah yang lebih banyak mengurus Konyil dan Inyot (berarti sejak tempurung Inyot berdiameter sekitar 15 cm). Bapak yang selalu mengganti air di ember mereka. Bapak yang kasih mereka makan pagi dan sore. Setiap hari. Berbeda dengan Inyot yang cenderung cuek sama Bapak kecuali saat dia lapar, Konyil yang super galak dan jutek itu tuh nempel banget ma Bapak. Tiap kali Bapak ambil air di tempat tetangga, Konyil selalu ikut di belakang Bapak.
Tiap kali Bapak pulang buat sholat Dzuhur, Konyil selalu ngejar Bapak. Dia baru berhenti jalan ketika Bapak bilang: Di rumah aja, Bapak mau ke masjid!
Tiap Bapak makan siang, dia selalu deketin Bapak dan diem di deket kaki Bapak.
Jadi, kalau ditanya siapa yang paling nyesel Konyil nilang. Ya pasti Bapak =(

Sampai saat ini, tiap kali keinget Konyil, aku masih aja sedih. Khawatir banget sama keadaan dia.
Konyil yang pemarah itu ga bisa makan kalau ga ada di dalam air. Dia pemalu kalau dikasih makan. Harus ditinggal dulu sebbelum akhirnya dia makan makanan yang kami berikan. Makanan yang paling dia suka cuma pelet khusus kura-kura. Jangkrik, kangkung, buah-buahan, dan roti cuma dia makan ketika dia benar-benar terpaksa.
Konyil yang galak selalu saja mengeluarkan suara mendesis ketika orang-orang coba mendekatinya. Mengangkatnya berarti siap kena cakaran kuku-kukunya yang panjang dan tajam.
How I miss him =,(

 

Konyil, di mana pun kamu sekarang, baik-baik ya...
Makan yang banyak, jangan sampai sakit.
Kami kangen kamu. Khawatir sama kamu. Apalagi Bapak.
Kalau benar seseorang udah nemuin kamu. Semoga dia bisa rawat kamu sebaik mungkin. Kalau bisa, malah jauh lebih baik dari cara kami pelihara kamu.
Maaf ya, kami ga bisa jagain kamu. Maaf.
Nyil, kamu ngilang bukan karna marah sama Ibu yang ga ngebiarin kamu jalan-jalan dua hari lalu, kan? Ibu bilang kamu sempet marah, ga mau makan karna seharian Ibu ga ngelepas kamu karna ga bisa ngawasin kamu. Hey, itu karna Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa.
Dan sekarang, kami semua khawatirin kamu. Bener-bener pingin kamu baek-baek aja di mana pun kamu berada.
Pulang ya, Nyil, kalau kamu bisa.
Or live well, wherever you are...
We love you, Konyil =)



PS: Anak-anak tetangga pada nanyain kamu di mana, mereka kangen maenan ma kamu =,)

Minggu, 27 Mei 2012

Cuap-cuap (Nggak) Penting 4

Sudah akhir Mei dan tak ada satu pun postingan, Phe? Where are you???
Hehehe, oke... openingnya lebay... *nyengir*

Sebenernya, masih di sini-sini aja. Sedang malas posting karena memang sudah jarang memonopoli modemnya si mbak. Bahan tulisan ada, tapi kata-kata macet di ujung jari.

Buku yang belum terbaca masih teronggok di sudut tempat tidur. Film-film yang belum ditonton masih memenuhi leptop. *sigh*

Lama-lama, bosan juga terus-terusan di rumah. It's almost a year since my graduation. And to be honest, I don't know what I want. *sigh*
Tapi sudahlah. Mari menikmati apa yang ada sekarang. Mari melihat segala kemungkinan dan mengumpulkan segenap kemauan untuk kembali melangkah =)

 

Ah, iya...
Belakangan aku sadar, banyak hal yang aku rindukan: rasa kopi, obrolan gila yang menjaga pikiranku tetap waras, teman-teman dekat yang membagi cerita mereka, dan hujan =) Nah kan, jadi mellow...
Belakangan, aku enggan ke toko buku karna terlalu banyak buku yang sangat menarik perhatian dan bikin kantong kempes tanpa isi. Kepingin tapi ga bisa dapetin itu perih, sodara-sodara. Hehehe... Harus dan harus selalu sadar ada banyak buku di rumah yang belum terbaca nih.
Belakangan, aku males nonton Running Man karna banyaaak banget yang jadi heboh ma reality show satu itu. It's not that I don't like the show anymore. Tapi, segala sesuatu yang terlalu booming tuh bikin males. Hehehe, setidaknya bagiku seperti itu sih.

Well, sebelum postingan ini semakin ga jelas arahnya, lebih baik aku mengakhirinya. Hehehe...




I'll write again. As soon as possible =)

Jumat, 20 April 2012

The Vow (Amerika, 2012)


Film romatis yang meraup banyak keuntungan ini bercerita tentang sepasang suami istri, Leo Collins (Channing Tatum) dan Paige (Rachel McAdams), yang mengalami kecelakaan. Setelah sadar dari koma, Paige mengalami hilang ingatan terhadap memori dalam beberapa tahun terakhir hidupnya. Paige mengingat seluruh anggota keluarganya, bahakan tunangannya selama kuliah Hukum dulu, kecuali Leo, suaminya sendiri. Maka dimulailah usaha Leo untuk membuat Paige kembali mengingatnya, dan jatuh cinta lagi padanya.

Sepertinya, pembuat film ini ingin mengulang kesuksesan film The Notebook dan Dear John dengan memasangkan dua tokoh utama dalam kedua film tersebut. Namun sayangnya, hal ini tidak begitu berhasil menurutku. Selain karena daya tarik kedua tokoh utama dan tanggal rilis yang berdekatan dengan Valentine tahun ini, sepertinya tidak ada hal lain yang menjadi sebab tingginya pemasukan film ini. Dari segi cerita, meskipun terinspirasi dari kisah nyata, tidak ada hal yang benar-benar istimewa. Seperti ada yang kurang dalam usaha Leo membangkitkan kembali ingatan Paige. Perpindahan tiap adegan juga terasa sangat cepat tanpa meninggalkan kesan yang mendalam.

Ah, cerita romantis memang semestinya diserahkan ke Nicholas Sparks saja ya... Hehehe... Udah paling top lah itu kalau Nicholas Sparks yang bikin ceritanya. Dari Message in a Bottle, A Walk to Remember, The Notebook, Nights in Rodanthe, Dear John sampai The Last Song, semua sukses membuat penonton terbawa emosinya. Baik novel maupun filmnya nyaris semua sukses dan meraup untung yang besar. Jadi, tidak salah kan kalau The Lucky One sangat dinanti oleh para pecinta film romantis? =)