Jumat, 26 Juli 2024

Bapak dan Buku

Usiaku 5 tahun, masih sibuk membuka kertas kado dari benda berbentuk kotak yang kuyakin pasti berisi buku. Tapi aku tetap penasaran, judul dan jenis buku apalagi yang bapak pilihkan kali ini.

 

Lalu ibu melayangkan protes ke bapak: "Kado buku lagi?"

 

"Kamu itu belum paham. Dari buku kita jadi banyak tahu. Ibaratnya, tidak perlu benar-benar keliling dunia untuk tahu dunia. Lewat membaca kita bisa tahu!" jawabnya.

 

Begitulah bapak. Secinta itu pada buku. Dan juga koran.

Secinta itu pada membaca.

 



Bapak, orang pertama yang membawaku ke toko buku. Memberiku kado satu demi satu buku yang pada akhirnya menghuni-memenuhi rak bukuku dan mewarnai masa kecilku.

 

Bapak yang dengan serius membuat perjanjian denganku saat seragamku masih putih-merah: Kalau rangking 3 besar, boleh pilih hadiah buku. Boleh pilih manapun yang dimau. Asal uang bapak cukup.

 

Maka, momen terima rapor menjadi hari paling kunanti dengan berdebar. Ketika akhirnya bapak membawaku ke Toko Buku Sekawan di Sabtu sore setelah magrib di hari terima rapor, aku tekun menyusuri setiap rak buku yang memajang puluhan judul buku anak. Memilih dengan campuran harap dan takut. Berharap bapak punya cukup uang untuk membelikan buku yang kupilih. Meskipun, sering ada negosiasi karena bapak tidak punya cukup uang untuk membeli buku yang terlalu mahal, Bapak tidak pernah mengingkari janjinya untuk membelikanku buku setiap kali aku mendapat rangking 3 besar.

 

Rutinitas itu berlangsung sekitar 6 tahun. Setelah krisis moneter, harga buku pun melonjak luar biasa. Bapak tidak lagi sanggup membelikan buku-buku yang bersifat rekreasional. Uang bapak difokuskan untuk biaya pendidikan kami, dari SPP hingga pritilan alat tulis dan uang jajan mingguan. Pendapatannya sebagai tukang foto tidak mengizinkan kami hidup bermewah-mewahan.

 

Maka, jalan satu-satunya untuk mendapatkan buku, yaitu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang jajan itu. Pada akhirnya hampir selalu, lebih baik tidak jajan daripada tidak membeli buku incaran dengan uang yang harus dikumpulkan berbulan-bulan.

 

Ketika akhirnya aku dan kakakku punya gaji sendiri, giliran kami sering membelikan buku sebagai kado ulang tahun bapak. Atau sekedar membelikannya tanpa peristiwa tertentu, hanya karena kami tahu bapak sedang mengincar buku tertentu.

 

Koleksi bacaan bapak juga banyak mempengaruhi selera bacaku. Aku kenal Ayu Utami melalui Saman. Salah satu koleksi buku di lemari buku bapak yang tentu saja kubaca diam-diam ketika masih kelas 1 SMP.

 

Ketika AADC membuat nama Chairil Anwar meledak lagi, aku tinggal ambil buku Aku Ini Binatang Jalang dari lemari buku bapak. Juga karya lawas Ashadi Siregar, Cintaku di Kampus Biru. Bahkan juga dari bapak, aku baru kenal Leila S. Chudori melalui Pulang.

 

Sungguh menyenangkan punya bapak yang hobi baca buku. Sangat membanggakan punya bapak yang langganannya koran Kompas. Selalu mengharukan setiap kali ingat bahwa bapak yang punya hobi keren ini, adalah bapak yang cuma lulusan SD, yang harus putus sekolah saat SMP karena tak tahan cemoohan teman-temannya pada baju seragam bapak yang selalu lusuh dan kotor.

 

Bapak. Terima kasih, ya. Febi kangen.

 

683 hari setelah kepergiannya, aku baru punya nyali untuk mengurai rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar