Usiaku 5 tahun, masih sibuk membuka kertas kado dari benda berbentuk kotak yang kuyakin pasti berisi buku. Tapi aku tetap penasaran, judul dan jenis buku apalagi yang bapak pilihkan kali ini.
Lalu ibu melayangkan protes ke bapak: "Kado buku
lagi?"
"Kamu itu belum paham. Dari buku kita jadi banyak tahu.
Ibaratnya, tidak perlu benar-benar keliling dunia untuk tahu dunia. Lewat
membaca kita bisa tahu!" jawabnya.
Begitulah bapak. Secinta itu pada buku. Dan juga koran.
Secinta itu pada membaca.
Bapak, orang pertama yang membawaku ke toko buku. Memberiku kado satu demi satu buku yang pada akhirnya menghuni-memenuhi rak bukuku dan mewarnai masa kecilku.
Bapak yang dengan serius membuat perjanjian denganku saat
seragamku masih putih-merah: Kalau rangking 3 besar, boleh pilih hadiah buku.
Boleh pilih manapun yang dimau. Asal uang bapak cukup.
Maka, momen terima rapor menjadi hari paling kunanti dengan
berdebar. Ketika akhirnya bapak membawaku ke Toko Buku Sekawan di Sabtu sore
setelah magrib di hari terima rapor, aku tekun menyusuri setiap rak buku yang
memajang puluhan judul buku anak. Memilih dengan campuran harap dan takut.
Berharap bapak punya cukup uang untuk membelikan buku yang kupilih. Meskipun, sering
ada negosiasi karena bapak tidak punya cukup uang untuk membeli buku yang
terlalu mahal, Bapak tidak pernah mengingkari janjinya untuk membelikanku buku
setiap kali aku mendapat rangking 3 besar.
Rutinitas itu berlangsung sekitar 6 tahun. Setelah krisis
moneter, harga buku pun melonjak luar biasa. Bapak tidak lagi sanggup
membelikan buku-buku yang bersifat rekreasional. Uang bapak difokuskan untuk
biaya pendidikan kami, dari SPP hingga pritilan alat tulis dan uang jajan
mingguan. Pendapatannya sebagai tukang foto tidak mengizinkan kami hidup bermewah-mewahan.
Maka, jalan satu-satunya untuk mendapatkan buku, yaitu
mengumpulkan sedikit demi sedikit uang jajan itu. Pada akhirnya hampir selalu,
lebih baik tidak jajan daripada tidak membeli buku incaran dengan uang yang
harus dikumpulkan berbulan-bulan.
Ketika akhirnya aku dan kakakku punya gaji sendiri, giliran
kami sering membelikan buku sebagai kado ulang tahun bapak. Atau sekedar
membelikannya tanpa peristiwa tertentu, hanya karena kami tahu bapak sedang
mengincar buku tertentu.
Koleksi bacaan bapak juga banyak mempengaruhi selera bacaku.
Aku kenal Ayu Utami melalui Saman. Salah satu koleksi buku di lemari buku bapak
yang tentu saja kubaca diam-diam ketika masih kelas 1 SMP.
Ketika AADC membuat nama Chairil Anwar meledak lagi, aku
tinggal ambil buku Aku Ini Binatang Jalang dari lemari buku bapak. Juga karya
lawas Ashadi Siregar, Cintaku di Kampus Biru. Bahkan juga dari bapak, aku baru
kenal Leila S. Chudori melalui Pulang.
Sungguh menyenangkan punya bapak yang hobi baca buku. Sangat
membanggakan punya bapak yang langganannya koran Kompas. Selalu mengharukan
setiap kali ingat bahwa bapak yang punya hobi keren ini, adalah bapak yang cuma
lulusan SD, yang harus putus sekolah saat SMP karena tak tahan cemoohan
teman-temannya pada baju seragam bapak yang selalu lusuh dan kotor.
Bapak. Terima kasih, ya. Febi kangen.
683 hari setelah kepergiannya, aku baru punya nyali untuk
mengurai rasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar