5. The silly things I've experienced
Kejadian konyol dalam beberapa bulan terakhir? Ada dua.
Satu, ngeliat dengan mata kepala sendiri kedudulan Dani berjuang mematikan alarm HP Nokia 6120-nya dengan cara memencet-mencet layar HP tersebut! I was burst into laughter when I saw that!
Jadi kejadiannya pas tengah malam saat aku berkutat dengan skripsiku. Waktu itu aku beneran buntu ma si skripsi ketika alarm di HP Dani bunyi keras banget. And yes, that annoying ringtone terus-terusan bunyi sampe akhirnya Dani bangun dan meraih HP-nya itu.
"Who live in a Pineapple under the sea? SPONGEBOB SQUAREPANTS!! Who died in a oil spill because of BP? SPONGEBOB SQUAREPANTS! SPONGEBOB SQUAREPANTS! SPONGEBOB SQUAREPANTS!" *azzzzz @#%!!!*
Lumayan lama setelah Dani pegang HP-nya itu, si alarm nggak mati-mati. Aku yang keganggu banget ma suaranya akhirnya ngeliat ke arah Dani yang ternyata sedang berjuang keras mematikan alarm HP itu dengan cara memencet-mencet layarnya!
So, nggak jadi ngamuk, aku malah ngakak nggak berhenti-berhenti. I said gently to her, "Hey Dan, itu bukan HP touchscreen lho."
And she replied, "Oh, hehe, iya to... pantes nggak mati-mati suaranya..." *gubrak*
Ya, malam itu, si Dani dengan setengah nyawa karena baru bangun tidur ternyata mengira HP Nokia 6120, yang sudah dimilikinya selama kurang lebih 4 tahun, sebagai HP touchscreen, saudara-saudara. *ngakak*
The other silly thing happened last week.
Sodaraku di Depok lagi butuh wayang kulit buat souvenir suatu acara yang melibatkan banyak orang mancanegara. Dia minta tolong ke Dani untuk nyariin wayang kulit berukuran kecil dengan kualitas bagus. Dari salah satu temannya, Dani dapet info kalau di pasar malam Ngarsopuro ada yang jual wayang kulit kecil dengan kualitas bagus dengan harga yang lumayan miring. Jadilah malam minggu kemaren kami hunting si wayang kulit di Ngarsopuro.
Aku udah mupeng banget pingin punya yang Bima (Werkudara) =D
Sampe di Ngarsopuro, kami langsung sibuk milih wayang kulit berukuran kecil tersebut setelah nemuin standnya. We were amazed by the details of those little shadow puppets. Jadilah kami bingung pilih yang mana. Sodaraku minta dicariin yang Punokawan dan Srikandi. Tapi karna Srikandi-nya nggak ada, jadilah kami sibuk pilih-pilih tokoh lain. Dan terpilihlah Rama-Shinta dengan warna dan detail motif bajunya yang indah.
Selain wayang ukuran kecil, ada juga gantungan kunci dan pembatas buku yang juga berbentuk wayang kulit kecil dengan harga Rp 10.000 per-3 buah.
Awalnya Dani cuma ambil satu set wayang kulit kecil Punokawan seharga Rp 35.000 dan Rama-Shinta seharga Rp 60.000, dan aku ambil satu gantungan kunci Bima. Yeah, I was very excited because of that! I found Bima!
Tapi karna si penjual bingung kasih harga berapa, akhirnya aku diminta ambil 2 gantungan kunci lagi.
Alhasil aku sibuk milih 2 gantungan kunci sementara si mas-mas penjualnya masukin barang lain yang telah kami pilih ke dalam plastik. I picked Srikandi and Semar dan langsung memasukkannya ke plastik. Akhirnya si bapak penjual ngasih harga Rp 85.000 doang.
Bingung gimana bisa dapet harga cuma segitu padahal harusnya kalau diitung totalan per-barang semestinya kami harus bayar Rp 105.000? Yeah, aku juga bingung! Tapi sudahlah... Alhamdulillah dikasih harga segitu tanpa perlu repot-repot nawar, ahahaha...
Then we paid, said thank you and left.
Our next destination was jagung bakar barat Mangkunegaran, sembari nunggu pesenan yang bakal kami bawa pulang, aku ma Dani ngobrol-ngobrol. Aku udah seneng banget tuh karena bisa beli gantungan kunci Bima. Yes, right, that silly smile was very big in my face.
Sampe akhire Dani buka-buka plastik bungkus belanjaan kami.
"Loh, Bima-nya kamu ambil to?"
"Ndak lah. Ga usah bercanda deh, ada kan di plastiknya?"
"Mana?"
"Heh? Mosok nggak ada?"
"Lha tadi kamu kok cuma milih dua?"
"Pilih dua kan tambahane, yang Bima udah dimasukin masnya ke plastik."
"Lha mana ndak ada gini kok."
"Heh? Mosok nggak ada?!"
"Nggak ada ni lho."
"Mosok nggak ada?!?!"
"Nih cek sendiri ada nggak."
"Mosok nggak ada?!?!?!"
"Hahahahaha..."
"Bima-ku... Bima-ku... Haduh Dan, aku kan niate beli Bima! Bukan yang laen! Huaaaaa...."
"Hahahahaha..."
"Ayo balik ke penjuale! Ayo! Sekarang!"
"Hahahahaha..."
"Haduh, Bima-ku... Bima-ku, Daaaan... Ayo diambil! Bilangin ke masnya Bima-ne belom masuk plastik! Huaaaaa..."
"Hahahahaha..."
Ya, begitulah... ternyata gantungan kunci Bima yang aku beli belom dimasukin ke plastik sama mas-mas penjualnya! Argh!!!
Dan Dani nggak berhenti ngakak karena reaksiku pas tahu si gantungan kunci yang udah tak idam-idamkan itu *halaaah* malah nggak masuk ke plastik belanjaan kami! Kecuuut... kecuuut...
Jadilah kami balik lagi ke Ngarsopuro malam itu, Dani yang nyamperin masnya buat komplain. Hehehe...
Aku udah terlanjur manyun XD
That was my first time aku bereaksi seperti itu. Hahaha...
Kalau itu bukan Bima, sebodo banget lah mau ketinggalan juga. Palingan aku akan lempeng aja bilang, "Yaweslah nggak apa-apa. Kapan-kapan lagi aja belinya."
Hehehe...
6. The spooky sounds I've heard
Sudah tiga kali aku denger suara yang sebetulnya nggak pingin aku denger.
Sekali waktu di daerah rumah sodaraku di Depok. Suara langkah kaki di deket rumah kosong yang ternyata kata sodaraku ada Mbak Kunti-nya.
Sebenernya saat itu aku nggak sendirian. Aku diboncengin Dani naik motor dan ada Anisa, sepupu kami, yang duduk di depan Dani. Tapi karna Dani sibuk ngobrol sama Anisa (lebih tepatnya rada ngomel karna Anisa nggak bilang: "Belok!" dimana sebenernya kami harus belok, sehingga kami nyaris saja masuk lebih dalam ke daerah rumah "berpenghuni lain" itu), sepertinya mereka nggak denger suara yang aku denger itu. Dan yep, I felt something wrong that time tapi cuma diem karna aku tau Dani pasti rewel kalau aku langsung bilang saat itu juga.
Dan dua suara lain yang aku denger baru-baru ini adalah suara gamelan Jawa dan seperti suara ketukan di kayu --"
Pas jam 1an pagi beberapa minggu lalu aku masih asyik ngenet ketika Dani dan Ibu udah tidur pulas. Bapak tidur di kios karna sodaraku yang jaga kios pulang desa. It was a quite night until I heard something. Musik gamelan Jawa lamat-lamat terdengar dan jadi makin keras. Aku coba buat mikir positif, "Ah, itu paling suara wayangan. Paling-paling tetangga ada yang nyetel wayang di radio.", tapi setelah aku dengerin lagi, ternyata nggak mirip sama sekali ma gamelan wayangan yang biasanya aku denger ><
Dan suaranya dari yang lamat-lamat terdengar jadi keras, berirama lambat ke cepat, sampai akhirnya melambat dan perlahan hilang sama sekali. That time, aku cuma berusaha keras untuk nggak ngeliat ke arah jendela kamar dan cepet-cepet nyalain winamp lumayan keras. Dan yang paling menyebalkan adalah aku tetep aja susah tidur dan jadi takut berlebihan --"
Terakhir, semingguan lalu, karena nggak mau muter jauh untuk ke tempat fotokopian di deket rumah, aku nekat lewat gang di deket rumah yang terkenal spooky. And yep, aku naek sepeda saat itu. *babo? maybe*
Sama sekali nggak ada orang di gang saat itu. Bener-bener sepi.
Sampe akhirnya aku nyampe di depan rumah yang menurut cerita Dani angker. (Dulu kantor Dani sempet di sana dan beberapa orang rekannya mengalami kejadian-kejadian aneh.)
And suddenly, ada suara seperti ketukan di kayu, dua kali. Dan aku langsung makin kenceng gowes sepeda yang tak pake sambil terus-terusan ngomong ke diri sendiri, "Nggak ada suara apa-apa, aku nggak denger apa-apa. Tenang, nggak ada apa-apa. Terus aja gowes jangan liat ke mana-mana, tadi sama sekali nggak denger apa-apa."
Huhuhu, seandainya saja aku nggak tinggal di wilayah dengan spooky stories yang teramat banyak...=,(
Aku berharap semua yang kudengar cuma halusinasiku saja. But yes, to be honest, I was totally scared that times.
Why do I share this in here? I always lost the" magical things" after I told peoples. So I wish I will loose "this magical thing" too. Asap.
So, those are my stories in these few months =)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar