Dalam obrolan kami, seorang teman, Riza, beberapa kali pernah melontarkan sebuah pernyataan: "Orang Indonesia tuh kagetan." Yang dia maksud kagetan di sini adalah ketidaksiapan menerima segala sesuatu yang baru. Ketidaksiapan itu terlihat dari reaksi masyarakat yang biasanya jadi gumunan (terheran-heran) dan akhirnya ikut arus.
Harus diakui, pernyataannya tersebut mengandung kebenaran yang tak terelakkan. *halaaah*
Berapa banyak orang Indonesia yang punya kamera DSLR sekarang? Berapa banyak dari mereka yang benar-benar memahami dan menguasai kamera tersebut?
Berapa banyak orang Indonesia yang punya BB? Berapa banyak dari mereka yang benar-benar butuh BB? Berapa banyak dari mereka yang beli BB untuk alasan simple, yang in my opinion, silly: biar gaul?
Berapa banyak coffee shop di kota kalian? Berapa banyak dari coffee shop tersebut yang benar-benar menawarkan cita rasa kopi yang sesungguhnya? Berapa banyak yang akhirnya gulung tikar karena masyarakat sudah tidak "kaget" lagi dengan "budaya" nongkrong di kafe menikmati kopi yang rata-rata tak enak rasanya?
Berapa banyak anak muda di Indonesia yang punya sepeda fixie sekarang? Berapa banyak dari mereka yang menggunakannya bukan hanya untuk kepentingan gaul sama temen-temen genk mereka?
Berapa banyak orang yang menggunakan headset supergede di jalanan setelah sinetron Angel's Diary ditayangkan? Berapa banyak dari mereka yang benar-benar butuh headset itu untuk mendengarkan musik yang mereka cintai?
Ah, itu cuma segelintir pertanyaan yang jawabannya akan menggiring kita pada sebuah pemikiran yang mungkin adalah kesipmulan: orang Indonesia tuh "kagetan" ya (?).
*hanya sebuah catatan untukku bercermin*
NB:
Dulu, sebelum paham "budaya kagetan" orang Indonesia, aku selalu terkagum-kagum dengan seseorang yang membawa kamera. Apalagi kamera DSLR. Kesannya keren aja gitu.
Tapi sekarang? Jadi biasa banget. Bahkan malah jadi skeptis. Beneran orang itu bisa motret atau dia hanya satu dari sekian banyak orang yang "kagetan" dengan kamera tersebut?
Apalagi, pake kamera digital kan minim kemungkinan menghasilkan foto "jelek". Program komputer buat bikin foto bagus kan udah banyak tuh.
Jadi, bagiku, orang-orang yang layak disebut fotografer adalah orang-orang seperti Bapak. Orang-orang yang mengalami suka-dukanya motret pake roll film.
Nggak ada lagi deh rumus seperti ini: kamare DSLR = keren.
^^v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar