Film peraih Piala Citra kategori Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2011 ini diangkat dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (1982). Film ini bercerita tentang kisah cinta Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Oka Antara) dengan latar belakang sejarah Indonesia di tahun 1960-an.
Srintil, yang ayahnya telah secara tidak sengaja membunuh sebagian besar warga Dukuh Paruk - termasuk ronggeng Dukuh Paruk saat itu, hidup dengan membawa beban rasa bersalah. Karena rasa bersalah tersebut, rasa tertariknya untuk menjadi ronggeng, serta kemampuan menarinya yang magis, kakeknya memberanikan diri untuk meminta Kertaredja (Slamet Rahardjo) melatihnya menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Kertaredja karena menjadi ronggeng bukan perkara mudah dan semestinya tidak digunakan untuk menghapus rasa bersalah Srintil tersebut. Sampai akhirnya Srintil menunjukkan bukti bahwa dirinya adalah ronggeng terpilih.
Keteguhan hati Srintil untuk menjadi ronggeng membuat Rasus, pemuda yang sedari kecil sudah sangat mencintainya, merasa sakit hati. Bagaimana tidak, dengan menjadi ronggeng, Srintil bukan lagi milik Rasus seorang, melainkan milik seluruh warga Dukuh Paruk. Tidak tahan menyaksikan Srintil melaksanakan kewajibannya menjadi ronggeng membuat Rasus memutuskan untuk bergabung dengan militer.
Pergolakan politik pada masa itu membuat Srintil terpisah dari Rasus. Akankah cinta mereka bersatu lagi?
This Indonesian movie is great! Thimbs up lah buat semua pihak yang telah membuat film berkualitas ini b^^d
Pengambilan gambarnya sangat artistik. Bikin penonton nggak bisa melepaskan pandangan dari layar! *tsaaah* Hehehe, reaksiku agak lebay deh ini... tapi memang seperti itulah =)
Akting para pemainnya juga super keren! Terutama sih Oka yang berhasil memainkan karakter pemuda desa yang kikuk dan canggung. Ekspresi mukanya di awal-awal film... ck ck ck... kereeen lah b^^
Sedikit kecewa dengan ending film yang kurang nendang... I mean, adegan akhir film ini bener-bener bikin cerita jadi antiklimaks. Sayang sih ya, karena sedari awal sampai ke bagian sebelum akhir itu, cerita udah terbangun dengan sangat apik. But still, this is a very recomended movie. Angin segar buat perfilman Indonesia yang masih saja didominasi film hantu-hantuan nggak jelas.
Ah, ya, sedikit cerita. Aku nonton film ini di Grand 21 sama Dani tanggal 25 November 2011 show pukul 20.25. Tebak dong berapa orang, termasuk kami, yang nonton film keren ini? Delapan, sodara-sodara! Delapan! Itupun cuma enam orang yang nonton sampai kelar. Hhh... Di gedung berkapasitas lebih dari seratus orang itu, cuma ada delapan kursi terisi -_-"
Heran ya, giliran ada film sebagus ini, jarang ada yang mau nonton. Pas filmnya jelek-jelek aja pada berjubel antri tiket. What's happened with you people? *sigh*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar