"Hal kecil yang sering lupa dilakukan oleh mereka yang vokal menyampaikan pemikirannya adalah memastikan bahwa lawan bicara mereka siap untuk mendengar. Siap untuk mendengar, bukan berarti harus selalu setuju."
Suatu sore, saya berada di antara dua orang yang awalnya membicarakan hal-hal remeh, seperti ramainya jalanan hari itu dan panasnya udara. Entah bagaimana awalnya, pembicaraan berubah menjadi lebih serius. Satu dari dua orang itu mulai membiacarakan hal-hal yang dia suka: jenis film, buku, musik yang selalu menarik perhatiannya. Yang lain menimpalinya dengan sewajarnya, tidak terlalu tertarik, namun juga tidak benar-benar menolak.
Merasa ditanggapi, orang yang menyampaikan pendapatnya mengenai berbagai hal yang disukainya mulai lebih jauh memaparkan kenapa dia menyukai jenis film, buku dan musik tertentu. Pembicaraan yang awalnya santai berubah menjadi serius, dengan dia yang semangat mengungkapkan bahwa kesukaannya pada jenis film, buku dan musik sangat beralasan. Jenis itu tidak mainstreem dan sangat khas dia, menurutnya.
Si lawan bicara pun mulai menanggapi dengan lebih serius. Dia memaparkan juga jenis film, buku dan musik kesukaannya, plus alasan-alasannya, yang tentu saja menurutnya sangat sempurna.
Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kalimat-kalimat mereka semakin panjang, namun tumpang tindih dengan kalimat satu sama lain. Nada bicara mereka pun semakin tinggi. Percakapan yang awalnya sepele berubah menjadi debat tidak berujung.
Tidak hanya sekali saya berada dalam situasi sejenis itu. Situasi yang akhirnya membuat saya tahu bahwa sebaiknya saya mengutarakan pemikiran saya kepada orang yang siap untuk diajak bicara mengenai hal itu. Tidak semua orang siap mendengarkan pendapat saya. Tidak semua orang akan setuju dengan pemikiran saya.
Jika saya ngotot memaksa orang lain mendengarkan pemikiran saya, toh akhirnya saya hanya akan membuatnya bosan. Lebih buruknya, tidak akan lagi didengarkan di lain kesempatan.
Dulu, tentu saja saya pernah, bahkan mungkin sering melakukan hal itu: memaksa orang yang tidak siap mendengar untuk menerima pemikiran saya. Ya, saya pernah semenyebalkan itu.
Sekarang saya paham, saya tidak akan bisa membuat orang lain mengerti pemikiran saya jika saya masih saja melakukannya dengan cara itu.
Dalam keadaan harus mengungkapkan pemikiran saya secara langsung, sebisa mungkin akan saya pilih orang yang siap mendengar pemikiran saya. Jika saya tidak bisa memilih, maka saya akan mengungkapkan hal yang tidak terlalu 'sensitif'.
Beruntunglah saya punya sarana untuk menulis, karena ternyata menulis membantu saya mengutarakan pemikiran saya, tanpa memaksa orang untuk membaca. Karena saya percaya, mereka yang membaca tulisan saya adalah orang yang memilih untuk membaca, dengan kata lain, siap untuk membaca dan mencoba mengerti pemikiran dalam tulisan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar