Selasa, 08 April 2014

Setahun Bersama Si Abu

Setahunan lalu, Dani bilang kalau salah satu teman @seli menjual sepedanya, Polygon Urbano 3.0 warna abu-abu. Saya yang belum punya sepeda lipat sendiri, tentu saja langsung tertarik. Apalagi harga yang ditawarkan lumayan untuk sepeda yang masih dalam kondisi bagus. Akhirnya, Dani beli sepeda itu. Kami pakai bergantian, walaupun saya yang lebih sering memakainya. *big grin* Maklum lah, Dani kan sudah sangat klop dengan Polygon Urbano 2.0-nya. *alibi* =P


 Memakai Si Abu (sebutan saya untuk sepeda Polygon Urbano 3.0 tersebut) tentu berbeda dari memakai sepeda lipat Aleoca milik ibu yang sudah dua tahunan sering saya pinjam. Sepeda ibu lebih berat. Kalau tidak salah, ukuran cranknya pun hanya 39. Hal yang membuat saya harus lebih banyak mengayuh untuk mencapai jarak yang sama dengan sepeda 20" dengan ukuran crank lebih besar.

Dua tahun bersepeda dengan sepeda ibu, jarak paling jauh yang saya tempuh adalah kurang lebih 60 Km, dengan tujuan Astana Giribangun, Mangadeg, Karanganyar. Acara bersepeda yang membuat saya rajin menuntun sepeda karena tanjakan-tanjakan luar biasa di sana >_<


Selain Mangadeg, sepeda ibu juga pernah sampai di Waduk Mulur dan Waduk Lalung, dengan rute Solo-Sukoharjo-Waduk Mulur-Waduk Lalung-Jaten (Karanganyar)-Solo. Rute yang tidak membuat saya harus menuntun sepeda karena rute tersebut punya banyak 'bonus'. Yang saya maksud 'bonus' adalah turunan tajam dan panjang yang bisa membantu di tanjakan :D

Rute lain yang juga pernah dilewati sepeda ibu adalah Solo-Waduk Cengklik-Tlatar-Pengging-Solo. Sedangkan rute yang paling sering dilewati tentu saja Solo-Waduk Cengklik-Solo, hahaha... Paling deket dari rumah sih =P

Sepeda ibu sudah bikin saya lebih kuat, seneng, dan sabar dalam bersepeda. Mmm, bagaimana tidak jadi sabar kalau seberapa kuat dan cepatnya kayuhan, tetap saja jarak tempuhnya pendek XD

Sekarang saya memang lebih sering pakai Si Abu. Sepeda ibu lebih sering dipakai bapak jika kami bersepeda dengan Dani. Ibu? Ibu masih tetap saja suka jalan kaki ke mana-mana, sudah makin jarag bersepeda -_-"

Bersama Si Abu, sepedaan pertama kami adalah di acara ultah @seli yang ke-3, dengan tujuan Janti, Klaten lewat Gawok. Setelah itu, beberapa kali Si Abu setia menemani ke makam Pongkring di Palur dan ke Waduk Cengklik dengan berbagai rute. Pernah juga sampai di Jeruk, Sawit, Karanganyar lewat Palang Joglo Kadipiro.

Jarak terjauh bersama Si Abu sih baru sampai di Candi Prambanan, akhir Februari 2014 lalu =) Yeah, akhirnya saya mampu bersepeda Solo-Jogja (coret)-Solo =P

Senang rasanya bisa terus bersepeda, walaupun dengan sepeda yang tergolong biasa saja jika dibandingkan dengan milik teman-teman di komunitas sepeda lipat lainnya. Alhamdulillah, sepeda ini bisa membawa saya ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi dengan bersepeda.

Semoga semakin banyak tempat yang bisa saya datangi bersama Si Abu. Semoga saya bisa lebih sering bersepeda. 

P.S.: Sepeda ibu sudah bikin saya sangat bersyukur bisa bersepeda dengan Si Abu, xixixi :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar