Sabtu, 12 Maret 2011

Esuk Dele, Sore Tempe

Orang Jawa pasti familier deh ma parikan satu ini: "Esuk dele, sore tempe."
Dalam Bahasa Indonesia, terjemahan bebasnya seperti ini: pagi (masih berbentuk) kacang kedelai, sore (sudah jadi) tempe.

Parikan Jawa ini merujuk pada sesuatu, seperti perkataan, perbuatan, keputusan dsb., yang berubah-ubah dalam waktu singkat. Nggak konsisten lah kalo istilah kerennya.

Ah, temen kampusku, Mbak Nuzul, sering banget ngucapin parikan ini setiap kali ada perkataan teman lain yang berubah-ubah. The way she talked, always made me laugh! Mirip banget ma budhe-budhe di pasar yang suka nggosip itu lho, hihihi... ^^v

Back to the topic... Malem ini, tiba-tiba aku kepikiran tentang parikan ini lagi. Kepikiran bagaimana parikan ini bisa bener-bener tepat menggambarkan ketidak-konsistenan orang-orang, terutama dalam berkata-kata.

Beberapa temenku sering banget vokal ngungkapin pendapat mereka tentang sesuatu hal, terutama hal-hal yang sedang hot-hotnya dibicarakan semua orang. Biar eksis kali, ya, hehehe... Tapi entah kenapa, dalam pandanganku, semakin mereka banyak bicara, mereka malah jadi keliatan "kosong" dan itu tadi, mewakili "esuk dele, sore tempe".


Sebut saja si A, suatu hari pernah sangat menggebu-nggebu mencaci SM*SH yang menurutnya sangat mewakili kaum homo dan norak. Itu terjadi saat SM*SH belom setenar sekarang, saat SM*SH masih hot cuma di YouTube. (Well, malah berkat caci makinya itulah aku jadi tau siapa SM*SH =P)
Dan malam tadi tiba-tiba saja twitternya berisi beragam pujian khas ABG ke salah satu personil SM*SH. Such as: "Aduuuh, dia (nyebut nama personil SM*SH) unyuuu banget deh."

Si B, berkali-kali menuliskan pendapatnya tentang drama Korea dan segala hal yang berbau Korea. Dia selalu bilang hal-hal seperti: "Apa sih pada suka drama ma film Korea? Nggak banget deh!; Ih, cowok-cowok Korea tuh kayak homo deh!"; dst.
Dan pada suatu hari dia berkicau di twitternya: "Nangis bombay gara-gara film Korea." *Nah lo...* Padahal sebelomnya, pas aku rekomendasiin film itu, dia bilang: "Yang laen aja deh, aku ga doyan film ato drama Korea." *krik krik krik*

Si C berkoar-koar bahwa dia tak akan pernah berteman lagi dengan seorang teman dekatnya karna menurutnya teman dekatnya itu sudah sangat mengecewakannya. Segala hal buruk tentang teman dekatnya itu diumbarnya ke siapa saja yang kebetulan ada di sebelahnya. Tapi esok hari setelah koar-koarnya itu, aku melihat si C dan teman dekatnya itu berjalan beriringan dan tertawa-tawa seperti tak pernah terjadi saja koaran-korana si C sebelumnya. *errrr*

Yeah, itu cuma sekelumit cerita tentang bagaimana seseorang... well, semua orang sih lebih tepatnya, sangat berpotensi menjadi persis seperti parikan Jawa: "Esuk dele, sore tempe."

Menurutku, manusiawi kok sebenernya kalo pendapat, sikap, pemikiran, perasaan kita berubah seiring berjalannya waktu. Ada hal yang awalnya kita benci, namun seiring waktu jadi kita suka bahkan cintai. Ada yang sebaliknya, dari cinta jadi benci. Tapi ketika hal itu terjadi dalam kurun waktu yang singkat, bahkan tak jarang sangat singkat, apa namanya sih kalo nggak "tidak konsisten"? =)

And for those, yang sebenernya mungkin pingin dinilai eksis tapi jatohnya malah malesi, tolong ya, bisa kan mengungkapkan pendapat dengan sewajarnya saja. Nggak perlu kan lebay banget bilang: kayak homo, menjijikkan, najis, dsb.; mengumpat, berkata-kata kotor, dll. cuma untuk menunjukkan ketidaksukaan terhadap sesuatu, tapi pada akhirnya berbalik jadi suka, ngefans, cinta mati terhadap sesuatu itu? =)
Nggak malu ya menjilat ludah sendiri?


Well, no offense, since I made this post to remind myself:

Esuk dele sore tempe, nek ngomong ojo mencla-mencle.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar