Kamis, 17 Maret 2011

Sesuatu Terjadi...

Kuch Kuch Hota Hai diputer lagi di MNC TV. Dan pikiran ini otomatis memunculkan sebuah nama, sebuah cerita...


Di pintu masuk kelas 1A.
Cewek berkepang itu memandang garang cowok bermuka jail yang berdiri di depannya.
"Minggir! Aku mau lewat.", kata si cewek.
"Lewat ya lewat aja."
"Kamu ngalangin jalan!"
"Oh, iya... lupa aku. Kamu gedhe sih ya, jadinya nggak cukup..."
"Berisik!"
"Gendut!"
"Kacamata kuda!", teriak si cewek sambil menginjak kaki kiri cowok di depannya. Si cowok berteriak dan refleks menarik kepangan rambut si cewek.
Si cewek mencoba melepaskan kepangan rambutnya dari tangan si cowok sambil menendang-nendang kedua kaki si cowok.
"Sakit, Ndut! Berhenti nendang!", teriak si cowok.
Si cewek tak mau kalah teriak, "Lepasin dulu rambutku, bodoh!"
Mereka bertahan seperti itu tanpa menghiraukan teman-teman mereka yang jadi tak bisa masuk kelas karena terhalang keributan yang mereka buat.
"Minggir, bertengkar mulu dari dulu! Kalo saling suka, jadian aja. Nggak usah kayak anjing ma kucing terus gini!", kata seorang teman.
Mendengar kata-kata itu, si cewek menghentikan tendangan-tendangannya ke si cowok dan si cowok melepaskan kepangan rambut si cewek dari genggamannya. Bersamaan mereka berteriak, "Berisik!", ke teman mereka. Kerumunan di sekitar mereka pun bubar. Tawa pecah dimana-mana.

Selama setengah tahun penuh, adegan seperti itu menjadi tontonan wajib bagi penghuni kelas 1A setiap kali si cowok kumat jailnya. Hubungan cowok dan cewek itu tidak bisa didefinisikan secara pasti, teman atau musuh. Kadang mereka bertengkar, kadang akur dan asik membicarakan sesuatu, kadang saling mencela diiringi tawa.


"Ndut, nonton deh film ini! Bagus!", kata si cowok sambil menyodorkan CD film Kuch Kuch Hota Hai.
"Oh, film itu. Udah nonton kemaren sama mbakku. Bagus ya. Seru!"
"Yoa. Tau kan apa arti judul film itu?"
"Nggak ngerti. Emang apaan?"
"Something happens...", kata si cowok sambil tersenyum.
"Oooh..."
Dan si cowok pun meniru siulan khas di film India yang mereka bicarakan itu.

Sejak saat itu, setiap kali mereka berpapasan, setiap kali tempat duduk mereka berdekatan di kelas, setiap kali si cowok mengikuti si cewek pulang dengan sepedanya, siulan khas itu selalu terdengar. Si cewek akan menoleh pada si cowok, terenyum dan akhirnya tertawa. Si cowok akan menghentikan siulannya dan balas tersenyum dengan muka bersemu merah.


Hingga suatu hari, cowok itu menyadari perubahan si cewek. Si cewek menjadi lebih pendiam, lebih menjaga sikap dan tak lagi mudah terpancing ketika si cowok menjailinya.
"Sakit, Ndut?", tanya si cowok.
"Nggak."
"Kok aneh?"
"Biasa aja ah.", kata si cewek sambil berjalan ke luar kelas.
Si cowok menarik kepangan rambut si cewek. Si cewek menoleh ke arah si cowok dan berkata datar, "Apaan sih, Kuda? Lepasin."
"Tuh kan aneh. Biasanya kamu bakal nendang-nendang aku dengan brutal tiap kali aku jambak rambutmu. Belakangan kamu jadi aneh. Jadi dingin! Nggak asyik lagi."
"Biasa aja ah. Kamunya aja yang masih kayak anak kecil.", kata si cewek sambil berjalan ke taman di depan kelas mereka. Si cowok masih mengikutinya.

Tiba-tiba seorang senior lewat di depan mereka. Si cewek memandangi senior itu sambil menahan senyum malu-malunya. Si cowok menghikuti arah pandang si cewek.
"Kayak Raul ya mukanya?", tanya si cewek masih sambil tersenyum malu-malu.
"Siapa?", tanya si cowok.
"Itu tadi, senior kelas sebelah.", jawab si cewek.
Dengan penasaran si cowok memandang senior yang dimaksud. "Nggak. Nggak mirip sama sekali."
"Mirip ah! Mirip!", kata si cewek.
Si cowok memandang sebal ke arah si cewek. Dengan muka jengkel dia katakan, "Aku punya kaos Raul, lho!"
"Aku juga punya."
"Besok aku mau pake pas ekskul basket."
Si cewek mengerutkan dahinya dan bertanya, "Terus kenapa?"
Si cowok terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengulurkan tangan kirinya ke belakang kepala si cewek dan menarik keras kepangan si cewek. "Nggak pa pa!", katanya ketus sambil berjalan balik ke kelas.
"Kuda jeleeek!", teriak si cewek.

Hubungan mereka merenggang. Si cowok masih menjaili si cewek yang jadi sibuk memikirkan senior kelas sebelah. Tapi hal itu tidak membuat hubungan mereka seakrab dulu.


"Hey, Ndut! Ini nomor telpon pacarmu itu, ya?", tanya si cowok sambil menuliskan sebuah nomor telpon di meja si cewek.
Si cewek terkejut melihat si cowok menuliskan nomor telpon senior kelas sebelah, namun berusaha tenang menjawab, "Aku kan nggak punya pacar."
Si cowok tertawa mengejek.
"Dari mana kamu tau nomor itu?", tanya si cewek.
"Ada aja. Aku punya informan handal.", jawab si cowok.
Si cewek hanya tertawa.
"Pinjam diary-mu dong.", kata si cowok.
Si cewek mengambil diary-nya yang berisi identitas teman-teman sekelasnya dan menyerahkannya pada si cowok.
Si cowok mengambil diary itu dari tangan si cewek. Membuka halaman tempat dulu dia tuliskan identitas dirinya dan merobek halaman itu di depan si cewek.
Terkejut, si cewek setengah berteriak bertanya, "Loh, kok disobek? Kenapa?"
"Nggak pa pa.", kata si cowok sambil berjalan menuju tempat sampah dan membuang kertas sobekan diary si cewek, lalu keluar kelas tanpa menoleh ke arah si cewek.

Sejak saat itu, si cewek mulai merasa ada yang aneh dari sikap dan tingkah si cowok. Selalu ada lirikkan sebal dari si cowok tiap kali si cewek memperhatikan senior kelas sebelah. Tak ada lagi jambakkan rambut, siulan khas, dan ejekkan-ejekkan jail dari si cowok. Hanya ada rasa canggung tiap kali mereka berdekatan. Hal ini semakin parah ketika akhirnya, dari seorang teman, si cewek tau si cowok menganggapnya lebih dari teman. Hubungan mereka tak pernah kembali dekat.


Satu tahun mereka pisah kelas. Selama setahun itu pula, diam-diam si cewek mengamati perubahan si cowok. Secara fisik, si cowok jadi menjulang tinggi. Tak kurang dari 180 cm tingginya. Hal lain yang lebih membuat si cewek risau adalah perubahan si cowok menjadi seorang playboy.

Mereka berubah menjadi asing satu sama lain, meskipun setahun itu, mereka masih saling menyapa walau sudah tak seakrab dulu.
"Hey, Gendut!", kata si cowok, dan "Yoa, Kuda!", jawab si cewek setiap kali mereka berpapasan. Namun percakapan mereka hanya berhenti di situ.


Kelas 3, mereka kembali berbagi ruang kelas.
Hubungan mereka menjadi lebih baik. Meski tetap tak bisa seakrab ketika kelas 1.
"Genduuut!", kata si cowok sambil menarik kepangan rambut si cewek.
"Argh! Sakiiiit, Kudaaaa!", teriak si cewek sambil mengayunkan kaki kirinya untuk menendang kaki kanan si cowok. Tapi sebelum tendangan itu mengenai kaki si cowok, si cowok dengan cepat berkata, "Stop, bodoh! Kaki masih digips gini masih mau ditendang!"
Si cewek pun menurunkan kakinya. "Awas kamu ya! Coba tuh kaki nggak lagi sakit!"
Si cowok dengan jail menjawab, "Kalo nggak sakit, setelah aku jambak rambutmu, aku pasti sudah lari."
Dengan cepat si cewek mengayunkan tangan kanannya untuk meninju lengan kiri si cowok.
"Aaaaw.", jerit si cowok ketika si cewek dengan cepat berlari menjauhinya.
"Bye Kudaaa!", teriak si cewek sambil berlari menuju gerbang sekolah mereka, meninggalkan si cowok yang mencoba berlari mengejarnya dengan kaki kanan yang masih digips akibat kecelakaan motor beberapa hari sebelumnya.

Hubungan mereka semakin membaik. Mereka sering saling mengejek, bertengkar, dan tertawa bersama teman-teman dekat mereka lainnya. Si cewek merasa lega karena si cowok bisa kembali menjadi teman dekatnya. Ketika cewek-cewek di sekolah mereka mulai mengidolakan si cowok yang terkenal playboy dan cengengesan, si cewek tak pernah ambil pusing. Tapi si cewek akan cemburu ketika si cowok berteman dekat dengan salah satu pengagumnya. Bagi si cewek, posisinya sebagai teman dekat si cowok tidak boleh tergeser! Walaupun akhirnya keadaan tidak pernah benar-benar bisa kembali seperti dulu. Mereka dekat namun tidak pernah bisa sedekat dulu.

Setahun berlalu cepat. Mereka kembali terpisah. Si cewek melanjutkan studi di sekolah yang sama dengan senior kelas sebelah bermuka mirip Raul, sedangkan si cowok memilih salah satu sekolah favorit lain di kota mereka. Hubungan mereka putus sama sekali.


Suatu hari setelah setengah tahun mereka memakai seragam putih abu-abu, si cewek melihat si cowok duduk di atas motor di seberang jalan di depan sekolahnya. Pandangan mereka bertemu. Si cewek melambaikan tangannya dan si cowok tersenyum dan menggumamkan kata: "Hei".
Tak berapa lama, seorang cewek yang diketahui satu sekolah dengan si cewek menghampiri si cowok. Mereka bercakap-cakap dan terlihat sangat akrab. Cewek itu membonceng si cowok. Si cewek akhirnya paham, mereka pacaran. Lalu si cowok menyalakan motornya, menoleh ke arah si cewek dan tersenyum. Si cewek balas tersenyum. Dan sejak saat itu, tak pernah sekali pun mereka mendengar kabar satu sama lain. Tak pernah lagi saling bertatap muka.


7 tahun kemudian.
"Kita jemput teman kita yang baru pulang dari pulau seberang dulu ya", kata Kejora pada si cewek.
"Loh? Dia pulang?", tanya si cewek. Benar-benar tak menyangka si cowok akan ikut kumpul bareng teman-teman dekat 1A.
"Yep!", jawab Kejora.
Di dalam mobil Kejora, pikiran si cewek penuh dengan bayangan seperti apa si cowok sekarang. Bertambah tinggi kah? Bertambah hitam?

Akhirnya mereka sampai di rumah si cowok. Si cowok yang sudah menunggu di depan rumahnya segera masuk ke mobil Kejora.
"Hallo.", kata si cewek dan Kejora bersamaan.
"Hai. Lama banget kalian!", jawab si cowok tanpa melihat ke arah si cewek.
"Susah nyari rumahmu.", jawab Kejora.
Obrolan mereka berlanjut tanpa percakapan langsung antara si cewek dan si cowok.
Mereka lalu menjemput Okto, teman dekat mereka lainnya. Si cowok asyik ngobrol dengan Okto yang duduk di sebelahnya di dalam mobil. Si cewek banyak diam dan sesekali mengajak bicara Kejora yang fokus nyetir.
"Geser kakimu, nutupin antena radionya.", kata Kejora ke si cewek.
"Hah?", tanya si cewek. Bingung dengan perkataan Kejora.
"Kegedhean sih badannya, jadi nutupin antena radionya tuh!", kata si cowok yang langsung disambut tawa Kejora dan Okto.
Ketika akhirnya paham maksud Kejora, si cewek menggeser letak kaki kanannya sambil menoleh ke arah si cowok, "Sialan!", kata si cewek dengan tatapan garang.
"Ouch, ngeriii...", kata si cowok sambil tertawa. Si cewek pun akhirnya ikut tertawa.

Ketika akhirnya sampai di sebuah rumah makan tempat mereka janjian ketemu dengan teman-teman dekat mereka lainnya, suasana menjadi lebih cair. Si cowok duduk di sebelah si cewek. Mereka melebur dalam percakapan dan candaan teman-teman mereka.

Ketika percakapan masih berlangsung antara teman-teman mereka, tiba-tiba si cowok bertanya pada si cewek, "Loh, rambutmu kamu potong?"
Otomatis si cewek memegang kepalanya yang sekarang berjilbab. ”Iya."
"Yah, padahal kan panjang banget dulu... Nggak sayang?", tanya si cowok.
"Rontok soalnya."
Obrolan mereka berlanjut sementara teman-teman mereka masih melanjutkan obrolannya masing-masing.
"Udah lama berjilbab?", tanya si cowok.
"Sejak kuliah. Empat tahun berarti."
"Ooh. Eh, aku lupa, dulu kamu SMA mana to?"
"Satu."
"Ah, iya ya. Harusnya dulu aku masuk sana juga, ya!", kata si cowok sambil tersenyum dan menaik-naikkan kedua alisnya.
"Ish...konyolnyaaa...", jawab si cewek sambil tertawa. Menyadari serangan a la playboy si cowok.

Obrolan mereka berlanjut. Candaan dengan teman-teman mereka bahkan membuat pengunjung lain di rumah makan itu sesekali menoleh ke arah mereka dengan memperlihatkan tatapan terganggu. Tapi mereka tak peduli. Mereka terlalu asyik mengenang masa-masa mereka berputih biru.

Di sela-sela obrolan dan candaan itulah si cewek akhirnya sadar. Si cowok telah banyak berubah, begitupun dirinya. Hidup di lingkungan yang berbeda telah membuat mereka tumbuh jadi pribadi yang berbeda pula.


Acara kumpul-kumpul mereka pun selesai. Setelah mengantar Okto pulang, sesaat sebelum si cowok turun dari mobil Kejora, si cewek menoleh ke arah si cowok dan berkata, "Bye Kuda, jangan panggil aku Gendut lagi, ya. Aku udah langsing sekarang!"
Dengan tatapan mengejek si cowok membalas, "Ah, ngayal kamu! Gendut ya gendut aja!"
"Dasar kuda jelek!", jawab si cewek sambil tertawa.
"Makasih ya, Kejora.", kata si cowok. Dan sesaat sebelum pintu mobil tertutup, si cowok berkata, "Oh iya, bye bye, Nduuut!"
Dan mereka bertiga tertawa.

***

It's ok though everything changed between us. Because both of us grown up. Thank you for being an annoying and fun friend at the same time. Take care di pulau seberang ya, si kaca mata pantat botol =D

*siul-siul khas Kuch Kuch Hota Hai*

2 komentar:

  1. dudu dudu durudu dudu dudu, dudu dudu durudu durudududu...aaaaaa...*siulan dgn beat khas KKHH :D :D

    BalasHapus
  2. ahahaha... *tutup muka pake tangan*

    BalasHapus