"Setiap kita memiliki bayang-bayang. Bukan musuh, melainkan pasangan yang berkebalikan."
Hal. 233
Dalam buku kedua Seri Bilangan Fu, yaitu Lalita, diceritakan tentang Lalita, perempuan paruh baya yang dengan keunikannya mampu membuat Sandi Yuda seperti mengulangi lagi kesalahannya pada Parang Jati dan Marja: berniat membantu orang lain dengan (terpaksa) berbohong, namun perlahan termakan oleh kebohongannya sendiri. Melalui Lalita, penulis mengajak pembaca untuk melihat Candi Borobudur dengan lebih dekat dan kritis.
Dalam buku ini, hal yang lebih banyak diceritakan adalah hubungan Yuda dengan Lalita serta berbagai peristiwa dan cerita dalam buku bersampul ungu milik leluhur Lalita. Parang Jati dan Marja mendapat porsi cerita yang lebih sedikit daripada yang ada dalam buku Manjali dan Cakrabirawa. Akan tetapi, peran mereka sangat penting dalam penyelesaian misteri dalam buku ini.
It's a good book =D Banyak banget hal yang baru aku tahu tentang Candi Borobudur dan hal-hal terkait psikoanalisa dalam buku ini.
Tapi kalau diminta merangking Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa serta Lalita, maka urutannya akan sama seperti tahun terbitnya. Bilangan Fu di peringkat pertama dan Lalita di peringkat ketiga.
Yang paling terasa berbeda adalah karakter Parang Jati. Semakin ke sini, sosoknya menjadi semakin tidak misterius, membuat rasa kagumku berkurang saja, hehehe ^^v
Tapi tetap saja, aku akan setia menunggu saat-saat kencan dengan Parang Jati di setiap tahun sampai sepuluh tahun mendatang =,)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar