Dua puluh menit sudah berlalu sejak dia duduk di pojok kafe ini. Ini berarti dia akan mengeluarkan buku dan mulai membacanya. Perlahan-lahan menciptakan saput imajiner yang memisahkannya dari segala yang ada di sekitarnya.
Seperti biasa, posisi tangannya selalu di atas meja. Di kanan kiri sisi luar buku yang dibacanya. Di depannya, dua cangkir kopi masih mengeluarkan uap panas. Satu cangkir dekat dengan tangan kanannya. Satu lagi jauh di depan tangan kirinya. Seperti sengaja dia letakkan untuk seseorang yang sedang ditunggunya.
Setiap tiga puluh menit dia akan mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dia baca. Mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Dan berakhir dengan menatap penuh harap ke arah pintu kafe ini.
Lima menit. Kemudian dia akan kembali membaca buku di hadapannya setelah menyesap kopi di cangkir yang dekat dengan tangan kanannya. Terus dia lakukan itu sampai kopi di cangkirnya habis.
Akan kita dengar helaan napas beratnya sebelum dia masukkan bukunya ke dalam tas selempang kulit di samping kirinya. Sesaat, hanya sesaat, jika kita benar-benar memperhatikannya, akan kita tangkap semburat kecewa dalam bening matanya.
Dia akan berjalan ke arah kasir. Membayar dua cangkir kopi. Meninggalkan satu cangkir kosong dan satu cangkir berisi penuh kopi hitam di meja paling pojok kafe ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar