"Aneh aja. Belum biasa ngeliat kamu pake poni. Sumpah ya, beda banget!", katanya.
"Halaaah... Kirain apaan! Hahaha... Beda banget ya? Pantes nggak sih?", tanyaku ingin tahu.
"Beda! Pol! Jadi keliatan kayak anak TK. Tapi pantes kok, kebih fresh aja.", jelasnya sambil tertawa-tawa.
"Yes! Jadi imut dong ya aku?", jawabku sekenanya. Dan tentu saja Lia langsung memprotesnya.
"Nyesel aku ngomong gitu!", katanya sewot.
"Apa yang sudah diomongin, nggak bisa ditarik kembali.", kataku sok centil sambil membenarkan poniku di depan muka Lia.
Alhasil, Lia langsung menoyor kepalaku dan bergegas pergi dari jangkauan tanganku.
"Ish, maen kasar! Awas kamuuu...", teriakku sambil mengerjarnya.
Perbincangan kami tentang poni otomatis mengingatkanku pada sebuah kejadian beberapa tahun lalu.
***
"Poni baru nih! Beda bener mukamu.", kata Nindya menghampiriku di bangku deretan belakang kelas kami.
"Hehehe, iya... Pingin aja punya poni. Niatnya sih buat nutupin jenong.", kataku menjelaskan.
"Masnya udah liat?", tanya Nindya ingin tahu.
"Belum. Tadi pagi aku lewat kelasnya, ternyata kosong. Sama sekali nggak ada orang.", kataku.
Well, yang dimaksud Nindya dengan sebutan 'masnya' adalah seorang kakak kelas yang sudah lama aku taksir. Kami sering membicarakan si 'masnya' itu. Yang kami bicarakan lebih banyak tentang hal-hal nggak penting sih. Tapi namanya orang naksir, segala yang nggak penting itu pasti jadi super duper penting, kan? Hehehe... Termasuk reaksi si 'masnya' tentang poni baruku.
"Oooh, ini kan hari pertama Ujian Praktik Kelas 3! Jadi pasti dia di lab!", jelas Nindya.
"Oh iya."
Tak berapa lama muncullah Anggun, teman sebangku Nindya yang juga adalah teman baikku.
"Weits, poni baru nih yeee...", katanya dengan mimik muka lucu.
"Yoa.", jawabku singkat.
"Eh, masnya di Lab. Biologi Lantai 1 lho! Tadi aku liat dia!", kata Anggun dengan gaya mirip tukang gosip yang baru saja mendapatkan gosip teranyar.
"Beneran?", tanyaku penasaran.
"Yup. 100% benar!"
"Nah, berarti kita turun lewat tangga belakang aja nanti ke lapangannya. Biar bisa lewat Lab. Biologi Lantai 1.", kata Nindya memberi ide.
"Hmm, good idea!", kataku mantap.
Maka Senin pagi itu, untuk pertama kalinya kami memilih turun lewat tangga belakang ke Lantai 1 menuju lapangan sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Demi melewati Lab. Biologi Lantai 1 sekolah kami. Demi melihat makhluk ganteng yang sudah lama menarik perhatianku. Hihihi...
***
Aku berada di antara Nindya dan Anggun ketika kami berjalan berdesakan dengan siswa-siswi sekolah kami, menuju lapangan sekolah. Beberapa meter sebelum melewati Lab. Biologi, aku mulai merasa grogi. Yeah, aku memang selalu seperti itu ketika akan mencuri-curi pandang ke arah si 'masnya'. Nindya dan Anggun pun mulai menjulur-julurkan leher mereka untuk mencari sosok si 'masnya' di Lab. Biologi.
"Ada!", kata Nindya.
"Iya, itu! Itu, di baris ke empat!", kata Anggun sambil menunjuk-nunjuk ke arah si 'masnya' berada.
"Aku udah liat!", kataku sambil menarik tangan kanan Anggun yang masih saja menunjuk-nunjuk.
Dan mulailah aksi sok cool kami. Berjalan sok cuek menuju depan pintu Lab. Biologi Lantai 1 yang terbuka lebar.
Tepat ketika bisa kulihat sosok si 'masnya', aku menolehkan kepalaku dan melihat langsung ke arahnya.
Satu... Dua... Tiga...
Yak, si 'masnya' pun melihat ke arahku. Dan tatapan kami terkunci untuk beberapa saat. Ada keterkejutan di matanya.
...Delapan ...Sembilan ...Sepuluh
Aku kembali menolehkan kepalaku ke arah depan. Tak lupa membiarkan diriku terlihat bodoh dengan senyuman menggelikan di bibirku.
"Ish... sampe melongo gitu dia!", kata Anggun heboh.
"Hah? Kalian ngeliat dia juga tadi?", tanyaku terkejut.
"Iyalah. Dan kami melihat sesuatu yang langka. Dia terpesona ngeliat kamu!", kata Nindya diselingi cekikikannya yang khas.
"Hahaha, maksudnya selama ini dia nggak pernah terpesona sama aku?", tanyaku retoris. Aku tahu pasti jawaban pertanyaanku sendiri. Dia, si 'masnya' itu, memang selalu saja dingin padaku. Bisa dibilang, baru sekali itu dia memperlihatkan ekspresi tertegun ketika melihatku.
"Ya gimana ya... Tapi beneran deh, baru kali ini dia melongo dan keliatan kaget banget ngeliat kamu! Beneran efek poni nih!", kata Nindya yang kemudian diamini oleh Anggun.
Kami pun tak berhenti cekikikan sepanjang sisa perjalanan menuju lapangan sekolah di Senin pagi yang berkesan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar