"Selamat datang! Aku sengaja menjemputmu. Nih...", kata si lelaki.
Perempuan itu memandang heran lelaki yang menyodorkan payung untuknya. "Kamu? Menjemputku?", tanyanya. Dengan canggung dia terima payung dari si lelaki.
"Tentu saja. Ayo, buka payungmu, kita jalan saja, ya."
Mereka berjalan keluar stasiun dalam diam. Si lelaki berjalan santai sambil menghisap rokok di tangannya. Perempuan itu mengikuti si lelaki dengan berbagai tanya di kepalanya.
"Aku kaget kamu ingat.", kata perempuan itu akhirnya.
Si lelaki menoleh dan menghentikan langkahnya. "Tentu saja, aku kan memang selalu ingat!", jawabnya sambil tersenyum.
Perempuan itu tersenyum sinis dan memalingkan wajahnya. Dia kembali berjalan, meninggalkan si lelaki.
"Hey! Tunggu aku!", teriak si lelaki sembari menjajari langkah perempuan itu. "Salah ya aku menjemputmu? Salah aku ingat hari kepulanganmu?"
Perempuan itu memandang si lelaki dengan tatapan tak percaya yang menyudutkan, tanpa menghentikan langkahnya.
"Ah, kenapa kamu selalu seperti ini? Memojokkanku seperti ini! Come on, let's make it simple. Don't be so complicated! Aku menjemputmu karena aku mau. Apa yang aneh dengan itu?", kata si lelaki, nada suaranya makin meninggi.
Perempuan itu menghentikan langkahnya. "Then let me know, kenapa sekarang? Kenapa di saat kita tak sedekat dulu? Kenapa tak kamu lakukan semua ini sedari dulu?"
Si lelaki terdiam. Kerutan di dahinya bertambah dalam.
"Dia yang menceritakan kepulanganku kali ini padamu?", tanya perempuan itu.
Raut si lelaki berubah kaget.
"Kenapa harus saat ini? Dari sekian banyak waktu yang kita punya dulu, kenapa kamu memilih saat ini?", tanya perempuan itu. "Aku tak akan kaget jika saja kamu selalu menjemputku setiap aku pulang. Aku tak akan berpikir macam-macam jika saja kamu bukan seorang pelupa. Memangnya kapan kamu pernah ingat hari dan tanggal kepulanganku?"
Si lelaki masih saja diam, tak mampu membantah kebenaran dari tiap kata perempuan itu.
"Jangan hanya karna dia mengingatkanmu bahwa aku pulang hari ini, maka kamu bersusah payah menjemputku.", kata perempuan itu. "Berhentilah, tolong berhentilah melakukan sesuatu yang bukan menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Jangan merusak ingatanku tentang kamu yang dulu, karna cuma itu yang sekarang aku punya tentangmu."
Si lelaki tak lagi sanggup menatap perempuan itu. Ia hanya ingin mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Ia sangat ingin membuat normal segala yang ada antara mereka tanpa mengusik keberadaan seseorang yang kini lekat di hatinya. Keinginan yang sederhana namun selalu jadi rumit ketika akhirnya dihadapkan pada kenyataan bahwa perempuan itu selalu tau apa yang melatarbelakangi tiap tingkah lakunya.
"Terima kasih atas usahamu kali ini. Lain kali, jika saja kamu masih ingin berusaha lagi, tolong, lakukan dengan caraku, bukan cara kalian. Atau beraktinglah dengan lebih baik lagi. Lakukan sebaik mungkin hingga aku bisa terkelabui. Hingga aku bisa berpikir bahwa kamu melakukannya karna keinginanmu sendiri, tanpa sedikit pun campur tangannya." Perempuan itu kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.
Si lelaki mengumpat keras dan membuang rokok di tangannya dengan kesal. Ditatapnya sosok perempuan itu yang makin menjauh pergi.
Ada tanya yang melekati pikirannya: "Kenapa kamu sekeras kepala ini? Kenapa kamu tak percaya aku lagi?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar