Sampe saat ini, aku masih percaya bahwa orang akan memperlakukan kita sesuai dengan cara kita memperlakukan mereka.
Kalo kita adalah orang yang nggak pernah peduli sama orang lain, orang lain juga nggak akan pernah peduli sama kita. As simple as that ^^
Salah satu temenku, sepertinya kena batunya belakangan ini. Bukan maksud sok-sokan nyalah-nyalahin dia, tapi apa yang terjadi ma dia belakangan ini bener-bener hasil dari tingkah lakunya selama ini. Yah, sopo sing nandur bakal ngunduh, kalo kata orang Jawa.
Dulu kami deket, bukan cuma berdua, tapi bersembilan. Lepas SMA, semua sibuk dengan perkuliahan masing-masing. Pertemuan kami jadi tak sesering dulu karna kami memang tidak kuliah di satu kota. Ada yang di Jogja, Surabaya, Klaten, dan Solo. Walaupun nggak semuanya dibagi, tapi paling tidak kami saling tahu hal-hal penting yang terjadi pada masing-masing dari kami. Si A punya pacar baru, si B lagi sedih karna HP-nya ilang, si C lagi ada masalah ma ortunya, si D manyun gara-gara ada cewek resek yang ngedeketin gebetannya, dan lain-lain, kami selalu tahu...paling tidak kami selalu berusaha tahu hal-hal semacam itu...kecuali dia...
Sedari awal kami tahu, dia memang berbeda. Cara dia berteman memang tak sama dengan kami. Ketika kami merasa senang bisa berkumpul dan membagi semangat lewat canda dan cerita, dia lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang dia sukai dan penting buatnya. Beberapa dari kami sudah bisa menerima hal itu sedari awal. Aku dan beberapa yang lain, masih saja mengharapkan ada perubahan darinya. Pikirku, dia akan berubah, akan bisa lebih menganggap pertemanan kami ini juga penting buat dia.
Ternyata, semakin hari dia malah semakin menjauh. Nggak pernah lagi sms untuk sekedar berbagi kabar, nggak pernah ikut main bareng, sampai akhirnya nggak pernah lagi sekedar sms ngucapin selamat ultah ke masing-masing dari kami.
Okelah, aku tahu dia sibuk, tapi menimbang pertemanan kami yang sedekat dulu, aku pikir itu bukan alasan untuk tidak menjaga silaturahim dengan teman-teman dekatnya.
Beberapa kali dia melakukan hal-hal yang kami sepakati sebagai sesuatu yang sudah di luar batas wajar. Hingga akhirnya, satu persatu dari kami tak lagi menganggapnya teman dekat...
Sedih memang kehilangan teman dekat, tapi akhirnya aku pribadi bisa menerima hal macam itu. Awalnya memang sulit, aku masih aja mikir dia keterlaluan banget sampai nggak pernah lagi peduli sama kami, temen-temen deketnya.
Tapi beberapa temen bilang,
"Kita temenan pasti nyari nyaman, kan? Anggep aja dia nggak nyaman sama kita, jadi nggak usah lagi ngarep dia mau temenan ma kita, apalagi sampe maksa.",
"Dia memang kayak gitu, mau kita marah kayak apa juga dia nggak akan berubah.", dan sebagainya.
Aku yang dulu selalu aja ngejawab, "Kebangetan lah, sama si A yang dulu selalu nemeni di saat dia butuh kok dia sampe secuek ini.", akhirnya sekarang bisa santai nanggepi, "Ya emang orangnya gitu, udah nggak bisa berubah. Kita cuma kudu milih cara kita untuk ngadepi dia. Mau terus kasih dia toleransi monggo, mau marah-marah terus yo monggo. Yang jelas, marah-marah juga nggak ada gunanya, dianya nyantai dan seneng-seneng aja dengan hidup dia sekarang tanpa kita."
Yep, kami udah berkali-kali komplein ke dia mengenai tingkah lakunya yang kurang kami sukai itu. Tapi sama sekali dia nggak berubah. *sigh*
Sebenernya, aku termasuk orang yang perhatian sama temen, apalagi temen deket, termasuk dia. Jadi dulu ketika temen-temen lain udah nggak mau lagi sekedar ngucapin selamat ultah lewat sms ketika dia ultah, aku masih sms. Ketika kami mulai bener-bener nyaris ilang kontak sama dia, aku mau coba hubungi dia, tanya kabar hingga mengingatkan untuk tidak terlalu jauh "meninggalkan" kami, teman-teman dekatnya.
Tapi akhirnya, aku capek juga. Segala usahaku juga nggak mendapat sambutan yang semestinya dari dia.
Belakangan ini, semua jadi memburuk. Setidaknya itulah yang aku rasa. Aku sendiri mulai lupa hal-hal tentang dia, bahkan hari ultahnnya. Dan temen-temen lain sepertinya malah sudah meniatkan diri untuk tak mengucapkan selamat ultah ke dia karena mereka tak pernah mendapat ucapan ultah dari dia. Parahnya, kami sudah tak lagi peduli seperti apa kabarnya.
Apakah kami merencanakan semua itu? Tidak.
Pada akhirnya, kami cuma bertingkah laku seperti dia selama ini. Bukan, kami bukan bermaksud balas dendam. Semua terjadi begitu saja. Kami berusaha menjaga pertemanan kami dengan dia, tapi ketika dia tak melakukan hal yang sama, kami bisa apa?
Yah, seperti itulah, apa yang kita lakukan ke orang lain, pada akhirnya akan berbalik ke kita ^^
Kalo nggak pingin dicubit, ya jangan nyubit duluan. Kalo nggak pingin dicuekin, ya jangan nyuekin duluan.
Untuk dia:
Meskipun kita sudah nggak sedeket dulu, aku masih doakan segala yang terbaik untukmu. Semoga kamu temui apa yang kamu cari dalam hidup ini. Semoga bahagia dengan segala pilihanmu. Terima kasih telah pernah menjadi bagian penting dari hidupku, telah membuatku bercermin dan mengerti apa yang kuinginkan dan tidak kuinginkan ada pada diriku. Jaga diri baik-baik, ya ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar