Minggu, 02 Januari 2011

Kebebasan dalam Berkicau

Setahun lebih aku berekspresi di twitter. Segala pikiran, perasaan dan tak jarang curcol-an tak penting kukicaukan di sana. Twitter adalah alat bantuku untuk lebih vokal dalam berpendapat. Mungkin hal ini juga lah yang dipikirkan oleh sebagian besar penguuna twitter, setidaknya yang ku-follow. Mungkin semboyanku ini: "My twitter is my rule. Aku bebas mengungkapkan apapun di twitter." juga berlaku bagi mereka.

Bukan rahasia lagi bahwa twitter adalah fenomena tersendiri. Cepatnya penyebaran suatu berita menjadi nilai tambah bagi jejaring sosial tersebut. Segala hal bebas dibicarakan di sana. Satu topik bisa dibicarakan oleh orang-orang di seluruh dunia secara bersamaan dan akhirnya menjadi trending topic (TT). Dan Indonesia, dengan banyaknya warga yang memiliki akun twitter, sering sekali menyumbangkan topik untuk akhirnya jadi TT. Yang sering membuatku terganggu adalah ketika topik-topik negatif dan (menurutku) sepele dari Indonesia bertengger di TT seluruh dunia. Misalnya saja saat "Ariel Peterporn" jadi TT selama 3 hari dan "Nonton Harry Potter" jadi TT karena Irfan Bachdim, yang sedang digandrungi para cewek di Indonesia itu, menuliskan sedang nonton HP7 di akun twitter pribadinya! Ck ck ck... *Sepertinya para pekicau di twitter memang sudah mulai menyerupai acara gosip yang suka banget lebay!* *sigh*




Well, hal yang sebenarnya lebih menarik perhatinaku adalah kicauan-kicauan yang turut menyumbangkan "suara" hingga topik tersebut jadi TT. Kicauan-kicauan yang sering tak penting dan terkesan hanya ikut arus. Apalagi saat topik tersebut dilontarkan oleh seoarang public figure dengan banyak follower. Follower tersebut sepertinya hanya ingin dinilai up to date dengan segala yang sedang in di twitter sehingga merasa wajib mengungkapkan pendapatnya, tak peduli pendapat itu diutarakan dengan atau tanpa pemikiran matang. Bahkan tak jarang pendapat itu diutarakan dengan bahasa yang jauh dari sopan. Yang penting eksis dan (merasa) keren dengan pendapat tersebut.


Aku tahu, twitter memberi ruang bebas berpendapat bagi penggunanya. Akan tetapi, kita harus tetap bertanggung jawab dengan kebebasan tersebut. Jangan hanya karena kita bebas berpendapat, kita jadi bebas menghujat, mengumpat, maupun menghakimi orang lain. Tetap santunlah dalam berpendapat, Kawan. Karena pada akhirnya, sebebas apapun kebebasan yang ada di twitter, twitter tak ubahnya negara di mana masyarakatnya tetap harus saling menghargai pendapat orang lain dan santun dalam mengutarakan pendapatnya. Nggak mau kan dihujat, diumpat, dan dihakimi orang lain yang belum tentu kita kenal dan mengenal kita hanya karena dia tak sependapat dengan kita? Maka jangan menghujat, mengumpat dan menghakimi orang lain yang tak sependapat dengan kita. Kalau di dunia nyata berlaku peribahasa "Mulutmu harimaumu", maka di twitter pun berlaku hukum yang sama, "Tweetmu harimaumu".


So, keep tweeting Kawan, dan mungkin bisa kita perbaharui semboyan kita dalam berkicau di twitter: "My twitter is my rule. Aku bisa mengungkapkan apapun di twitter, selama tak mengganggu dan merampas kebebasan pengguna twitter lainnya. Tapi jika kebebasanku diganggu, aku tak akan tinggal diam dan akan melakukan perlawanan dengan cara yang tetap santun." *Halah, kok jadi panjang banget ya tu semboyan?* Hahaha... Ah, sudahlah...yang penting: "Tetaplah berekspresi mulalui twitter dan tetaplah santun dalam berkicau". Hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar