Selasa, 04 Januari 2011

Kebenaran

Di suatu petang, saat senja baru sedetik pamit dari kota kecil itu. Mereka berdua berbincang di sudut kafe sepi pengunjung. Salah satunya, perempuan dengan potongan rambut pixie, yang mengenakan celana jeans biru tua, kaos putih dan jaket hitam, memandang datar perempuan lain di depannya. Perempuan lain itu, yang berambut lurus panjang sebahu, mengenakan kaos merah jamu dan celana jeans pensil warna hitam, tak berhenti bicara. Seperti ingin meyakinkan perempuan di depannya agar tetap mempercayainya.

"Jadi begitu, aku tak ada hubungan apapun dengan dia. Percayalah padaku. Aku sama sekali tak menganggap dia lebih dari sekedar teman, sungguh. Jika kamu minta aku untuk menjauhinya, berhenti menghubunginya, aku akan lakukan itu. Memangnya dia siapa, membuat pertemanan kita bermasalah seperti ini? Dia bukan siapa-siapa! Percaya padaku.", kata perempuan berambut sebahu.

Perempuan lainnya, masih dengan tatapan datarnya, sesekali melihat ke balik bahu perempuan di depannya. Terlihat ingin memastikan kedatangan seseorang.

"Jawab aku.", rengek perempuan berambut sebahu.

"Hmm, apa?"
"Itu tadi, aku dan dia cuma berteman, tak lebih. Tapi jika kamu keberatan kami berteman, aku akan berhenti menghubunginya, aku janji. Percaya aku. Aku akan perlahan-lahan menjauhinya."

Setelah beberapa detik terdiam, perempuan berambut pixie pun bicara.

"Bukankah sedari kemarin kau bilang tak ada hubungan apapun dengannya? Kenapa akhirnya kau mengaku berteman dengannya? Kau tahu, ini yang tak aku suka. Kau tak memberi tahuku hal yang sebenarnya. Hubungan kalian itu, memang bukan urusanku. Tapi apa kau tahu betapa muaknya aku menghadapimu yang selalu mengubah-ubah kata-katamu? Begini sajalah, aku tak mau lagi tahu seperti apa hubungan kalian. Itu hak kalian, aku tak mau ikut campur. Jadi, berhentilah memberi tahuku ini-itu tentang kalian yang sebenarnya tak sesuai kenyataan, oke?"

Perempuan berambut sebahu itu hanya diam. Seperti kebingungan mencari-cari kata yang tepat untuk menanggapi ucapan teman baiknya itu. Ya, kedua perempuan itu berteman baik. Tak pernah ada masalah antara mereka. Hingga hari itu. Hari dimana perempuan berambut pixie tahu bahwa dia telah dibohongi.


"Baik, jika itu maumu.", kata perempuan berambut sebahu. "Yang perlu kamu tahu, aku dan dia hanya berteman, tak lebih. Aku tetap akan menjauhinya meski kamu tak memintanya."


Perempuan berambut pixie sudah tak memperhatikan lagi kata-kata teman baiknya itu. Dia kembali sibuk melihat ke balik bahu teman baiknya itu. Mencari-cari sosok seseorang. Dan dia tersenyum saat seorang laki-laki berjalan menuju tempat duduk mereka.


Seketika itu juga, perempuan berambut sebahu menengok ke belakang. Dia terkejut. Sangat terkejut. Dengan cepat dia rapikan rambutnya. Menarik-narik kaos merah jambunya agar kembali rapi. Sementara itu dia terus saja bicara. "Ya, Tuhan! Kenapa ada dia? Kamu bilang padanya kita di sini? Kenapa? Kenapa kamu tak memberi tahuku bahwa dia akan datang menemui kita? Bagaimana ini? Kenapa harus bertemu di saat aku berpakaian seperti ini? Bagaimana ini?"


Perempuan berambut pixie hanya memandangi tingkah laku perempuan di depannya. Sedikit heran semudah itu perempuan di depannya itu terpancing, tapi juga senang karna keputusannya untuk tak lagi percaya pada mereka, tepat.


"Hai", sapa laki-laki itu ketika akhirnya dia duduk di sebelah perempuan berambut sebahu.


Yang terjadi berikutnya adalah percakapan basa-basi penuh pencitraan antara laki-laki itu dan perempuan berambut sebahu. Perempuan berambut pixie hanya sekali-kali menimpali percakapan mereka.


Satu jam berlalu. Perempuan berambut pixie memutuskan untuk pergi.


"Aku pergi dulu. Kalian nikmati saja malam ini. Ah, kau, teman baikku. Malam ini aku makin tahu. Kau memang pandai mempermainkan kata."

Ketika perempuan berambut sebahu tak mampu memandang perempuan berambut pixie, dan laki-laki itu hanya memandang dengan tatapan tak mengerti, perempuan berambut pixie melanjutkan kata-katanya.
"Tak ada hubungan? Hanya teman? Tak ada perasaan apapun? Mana yang kau minta aku percaya?"
Tak ada satu pun yang bersuara.

***

Tiga puluh menit sebelumnya.


"Aku sudah menghapus nomornya. Aku tak mau lagi mendekatinya. Tapi nanti, kalau aku butuh nomornya lagi, aku minta ke kamu, ya?", kata seorang laki-laki kepada perempuan berambut pixie.

"Kami di kafe biasa kita bertemu. Di meja kedua sebelah kanan pintu masuk. Datanglah, bukankah sebenarnya kau ingin menemuinya?"
"Oh... Aku tak tahu bisa datang atau tidak.", suara laki-laki itu berubah ceria.
"Sudahlah, datang saja. Aku tahu kau ingin datang. Sudah ya, sampai nanti."
Perempuan berambut pixie menutup telepon genggamnya. Dia tersenyum meski tatapan matanya datar tanpa emosi.

***

"Aku pergi."

Perempuan berambut pixie keluar dari kafe itu, memandang ke arah timur di mana bulan jingga menggantung sendu.
"Setidaknya mulai malam ini tak ada lagi kata-kata bohong yang memuakkan itu.", katanya pada diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar